BREAKING

Rabu, 24 Juli 2013

Cara Lumba-Lumba Berkomunikasi


Ilmuwan mengungkap bahwa lumba-lumba Bottlenose hidup di laut dengan berinteraksi satu sama lain. Hewan mamalia air ini bisa mengeluarkan suara unik untuk saling berkomunikasi.

Dilansir Nbc news, Selasa (23/7/2013), lumba-lumba memanggil satu sama lain menggunakan 'peluit' khas yang berfungsi sebagai nama. Peneliti mengatakan, setiap lumba-lumba bisa membuat peluit sendiri yang unik dan rekan atau keluarganya akan membalas dengan suara yang sama.

Temuan yang dipublikasikan Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa lumba-lumba mampu mengeluarkan suara khas persis peluit atau bersiul, yang bisa dimengerti oleh sesama lumba-lumba sebagai nama. Penelitian sebelumnya menunjukkan, individu lumba-lumba memiliki 'peluit' pribadi, namun belum diketahui apakah individu lumba-lumba lainnya mampu mempelajari suara khas tersebut.

"Ini dipelajari sebagai panggilan individu hewan yang bisa menyalin atau menandakan posisi satu sama lain," tutur Stephanie King, ilmuwan mamalia laut di University of St. Andrews, Inggris.

Lebih lanjut King mengatakan, di dunia hewan seperti lumba-lumba dan burung beo, mereka juga mampu mempelajari suara baru. "Sebagaimana manusia, kita bisa mempelajari suara baru dan lumba-lumbag serta burung beo juga dapat mempelajari suara baru," tambah King.

Lumba-lumba menggunakan repertoar yang mendengung, peluit dan klik untuk berkomunikasi dengan lumba-lumba lainnya. Mereka juga tampaknya mampu bekerjasama untuk berburu mangsa.

Selasa, 23 Juli 2013

Penemuan Kumbang Terbesar di Dunia



Titanus giganteus ataul ebih dikenal dengan sebutan kumbang Titan, ia bisa tumbuh sampai 7 inchi atau lebih dari 17 centimeter. Hewan itu juga punya rahang yang sangat kuat, bahkan bisa mematahkan sebatang pensil jadi dua. Kumbang Titan terbesar yang pernah ditemukan sejauh ini berukuran 16,7 cm di Guyana Prancis.

Namun, meski ukuran dan gigitannya menakutkan, serangga itu sama sekali tak berbahaya bagi manusia.

Kumbang Titan hidup tersembunyi di kedalaman hutan hujan tropis yang lembab di Amerika Selatan. Ia hanya berkeliaran untuk mencari pasangan.

Menariknya, larva dari serangga raksasa itu hingga kini belum ditemukan. Tapi, para ilmuwan yakin benar, larva itu bisa mencapai ukuran 1 inchi atau 2,54 cm, atau bahkan 2 inchi.

Dari jejak lubang besar yang ditemukan di pohon yang telah mati, ilmuwan meyakini, kayu yang membusuk menjadi pakan larva selama bertahun-tahun, sebelum ia tumbuh dengan maksimal. Menjadi kumbang raksasa.Kumbang jantan diketahui tidak makan selama masa dewasa, namun membutuhkan energi untuk terbang.Energi datang dari cadangan yang dikumpulkan dalam tahap pupa -- yang digunakan untuk terbang cukup jauh untuk menemukan pasangan.

Karena tubuhnya yang besar, ia tak punya cukup banyak energi untuk terbang dari permukaan tanah. Jadi kumbang Titan harus memanjat pohon dan meluncur dari cabang hingga kemudian melayang di udara.Sementara, para betina menanti pejantan menemukan dan membuahi telur mereka. Jadi mereka jarang terlihat.

Pertahanan Diri spesies Kumbang Titan mempertahankan diri dengan cara mendesis -- mengeluarkan peringatan. Lalu, menggunakan rahangnya yang keras untuk menggigit lawan.

Kumbang Titan juga punya kaki kuat dan cakar tajam yang bisa merobek binatang, juga daging manusia. Tapi, ia tak bakal menyerang jika tak diprovokasi.Kubang unik ini hidup di hutan hujan di Brasil, Bolivia, Kolumbia, Ekuador, Guyana, dan Peru. Di sana penduduk lokal kerap menangkapnya dengan pancingan sinar lampu terang.

Sebuah spesimen kumbang berukuran normal dapat bisa berharga 400 poundsterling atau Rp 6,1 juta.Sementara sejumlah orang mencoba menghindar dari kumbang menakutkan itu, sejumlah turis rela merogoh kocek dalam-dalam demi bisa melihat langsung serangga itu di habitat aslinya. Dan Titan menjadi contoh sukses ekowisata.

Bintsng Mati Meledak

Bintang-bintang bisa menjadi sangat fotogenik pada akhir hidup mereka.Salah satu contohnya bintang NGC 2392 yang berada sekitar 4.200 tahun cahaya dari Bumi.Para astronom menyebut NGC 2392, yang dijuluki "Eskimo Nebula", sebagai nebula planet meski penunjukkan ini memperdaya karena nebula planet sebenarnya tak ada hubungannya dengan planet-planet.

Penyebutan tersebut semata hanya peninggalan sejarah karena objek-objek itu tampak seperti cakram planet bagi para astronom pada masa awal yang melakukan pengamatan menggunakan teleskop optik kecil.Sementara nebula planet terbentuk ketika satu bintang menggunakan seluruh hidrogen pada intinya--kejadian yang akan dilalui Matahari dalam waktu sekitar lima miliar tahun, demikian artikel di laman resmi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Ketika itu terjadi, bintang mulai mendingin dan mengembang, meningkatkan radiusnya dari puluhan menjadi ratusan kali dari ukuran aslinya.Pada akhirnya, lapisan luar bintang akan dibawa oleh angin berkecepatan 50.000 kilometer per jam, meninggalkan inti yang panas.

Inti yang panas ini punya suhu permukaan sekitar 50.000 derajat Celsius, dan memancarkan lapisan luarnya jauh lebih cepat dari angin berkecepatan enam juta kilometer per jam. Radiasi dari bintang yang panas dan interaksi angin cepatnya dengan angin yang lebih lambat menciptakan cangkang filamen nebula planet.

Dan akhirnya sisa-sisa bintang akan runtuh untuk membentuk satu bintang putih kerdil.Sekarang para astronom menggunakan teleskop antariksa untuk mengamati nebula planet seperti NGC 2392.Gabungan gambar NGC 2392 dari data Observatorium Sinar-X Chandra milik NASA menunjukkan lokasi jutaan derajat gas di dekat pusat nebula planet dalam warna ungu. Sementara data dari Teleskop Antariksa Hubble menunjukkan warna merah, hijau, dan biru, pola rumit dari lapisan-lapisan luar bintang yang dipancarkan

Penemuan Ekor Dinosaurus Di Mexico

Mexico City (ANTARA News) - Tim arkeolog menemukan fosil ekor dinosaurus yang diperkirakan berumur 72 juta tahun di wilayah gurun utara Meksiko, kata Institut Antropologi dan Sejarah Nasional Meksiko (Instituto Nacional de Antropología e Historia/INAH).

Fosil ekor sepanjang lima meter yang masih cukup terawat itu adallah yang pertama kali ditemukan di Meksiko, kata Direktur INAH, Francisco Aguilar, pada Senin di negara bagian Coahuila.

Tim yang terdiri atas arkeolog serta mahasiswa INAH dan National Autonomous University of Mexico (UNAM) mengidentifikasi fosil tersebut sebagai hadrosaurus, jenis dinosaurus yang berdiri seperti bebek.

Ekor yang ditemukan di dekat sebuah kota kecil dekat General Cepeda itu sepertinya merupakan setengah dari seluruh ukuran tubuh dinosaurus yang dimaksud, kata Aguilar seperti dilansir Reuters.

Para arkeolog menemukan 50 ruas tulang ekor tersebut dalam keadaan utuh setelah menghabiskan 20 hari di padang pasir, perlahan mengangkat lapisan batuan sedimen yang menutupi tulang-tulang dinosaurus itu.

Menurut INAH, tulang belulang lain berserakan di sekitar fosil tulang ekor yang mereka temukan, termasuk salah satu tulang pinggang dinosaurus itu.

Penemuan terbaru itu dapat menambah pengetahuan tentang keluarga hadrosaurus dan riset terhadap penyakit yang menyerang tulang dinosaurus yang juga ada pada manusia, kata Aguilar.

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa dinosaurus juga bisa terjangkit tumor dan atritis. Fosil dinosaurus telah banyak ditemukan di negara bagian Coahuila serta sejumlah wilayah padang pasir lainnya di utara Meksiko. "Kami punya sejarah paleontologi yang kaya," kata Aguilar.

Keberadaan fosil itu pertama kali ditemukan warga setempat dan dilaporkan ke INAH pada Juni tahun lalu. Penggalian dimulai awal bulan ini. Fosil ekor dinosaurus itu selanjutnya akan dibawa ke General Cepeda untuk penelitian lebih lanjut.

Potret Bumi Dari Saturnus & Merkurius

Sebuah roket ruang angkasa robotik yang jaraknya 1,5 miliar km dari Bumi berpaling dari Saturnus dan bulan-bulannya demi mengambil gambar planet Bumi, demikian NASA seperti dikutip Reuters.

Foto yang dihasilkannya menunjukkan Bumi sebagai titik biru yang amat kecil dan lebih pucat dibandingkan foto-foto selama ini, yang dibayangi cincin raksasa Saturnus di latar depannya.
"Kami tak bisa melihat benua atau manusia dalam potret Bumi seperti ini, namun titik biru yang pucat ini adalah ragkuman tegas mengenai siapa kita pada 19 Juli," kata Linda Spilker, kepala ilmuwan pesawat ruang angkasa Cassini pada Laboratorium Propulsi Jet di Pasadena, California.

Cassini mengambil gambar itu Jumat, yaitu hari yang sama roket ruang angkasa NASA pengorbit Merkurius, MESSENGER, memotret Bumi dari dekat Merkurius. Pada foto ini, Bumi dan bulan diambil kurang dari satu piksel, namun kelihatan besar karena mengalami overekspos.

"Foto-foto mengenai planet kita yang diambil dalam satu hari dari dua titik terluar sistem tata surya nan jauh itu mengingatkan kita pada pencapaian teknis yang menakjubkan dalam eksplorasi keplanetan," kata kepala ilmuwan MESSENGER Sean Solomon dari Universitas Columbia, New York.

"Seluruh peristiwa itu bagi saya menggaris bawahi abad mendatang kita sebagai penjelajah planet," tambah astronom Carolyn Porco, yang mengawasi tim pencitraan Cassini di Institut Ilmu Ruang Angkasa di Boulder, Colorado.

Biasanya, wahana ruang angkasa di titik terjauh sistem tata surya tidak berbalik menghadap Bumi demi menghindari rusaknya instrumennya karena melawan arah sinar Matahari.

Pekan lalu, Matahari telah menutup sementara garis pandang Cassini sehingga memberi kesempatan kepada NASA untuk mengambil gambar Bumi.

"Citra ini mengingatkan kita betapa kecil rumah kita di keluasan ruang, sekaligus mencerminkan kecerdikan penghuninya untuk mengirim robot antariksa yang belajar Saturnus dan memotret Bumi," kata Linda Spilker, ilmuwan proyek Cassini dari Jet Propulsion Laboratory milik NASA.

Dalam rangka pengambilan citra ini pada Sabtu (20/7/2013) lalu waktu Indonesia, NASA menggelar kampanye "Wave at Saturn". Publik diminta melambaikan tangan saat Cassini mengambil foto sekitar pukul 04.27-04.47 WIB Sabtu lalu, seolah-olah foto setiap penduduk Bumi juga bakal terlihat.

"Sangat menggetarkan saya ketika orang di seluruh dunia istirahat sebentar dari aktivitas normal dan pergi keluar serta merayakan perayaan antarplanet antara robot dan pembuatnya yang direpresentasikan oleh gambar ini," kata Carolyn Porco dalam keterangan pers di situs web NASA, Senin.

Foto Bumi dari Saturnus kali ini baru merupakan foto ketiga Bumi dari bagian luar tata surya. Pemotretan Bumi dari bagian luar tata surya sulit dilakukan karena jarak yang jauh dan cahaya Matahari yang dapat merusak kamera wahana antariksa. Foto kali ini bisa dibuat karena saat diambil Matahari sedang ada di belakang Saturnus dari sudut pandang Cassini.
 
Copyright © 2013 X-UNIK
Design by FBTemplates | BTT